Mengenal Arti Hadis

Editor: BinaMualaf.com author photo
Foto Ilustrasi
 Hadits atau dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia disebut hadis, berasal dari bahasa Arab yakni الحديث , artinya berbicara, perkataan, percakapan (sabda), perbuatan, ketetapan dan persetujuan dari Nabi Muhammad SAW yang dijadikan landasan syariat Islam. Hadis dijadikan sumber hukum Islam selain al-Qur'an, dalam hal ini kedudukan hadis merupakan sumber hukum kedua setelah al-Qur'an.

Secara harfiah, hadis berarti berbicara, perkataan atau percakapan. Dalam terminologi Islam, istilah hadis berarti melaporkan serta mencatat pernyataan dan tingkah laku dari Nabi Muhammad SAW. Kata hadis disinonimkan dengan Sunnah, sehingga segala perkataan (sabda), perbuatan, ketetapan maupun persetujuan dari Nabi Muhammad SAW dijadikan ketetapan ataupun hukum.

Dari sisi struktur, hadis terdiri atas dua komponen utama yakni sanad/isnad (rantai penutur) dan matan (redaksi). Sebagai contoh, Musaddad mengabari bahwa Yahya menyampaikan sebagaimana diberitakan oleh Syu'bah, dari Qatadah dari Anas dari Rasulullah SAW, bahwa dia bersabda; "Tidak sempurna iman seseorang di antara kalian sehingga ia cinta untuk saudaranya apa yang ia cinta untuk dirinya sendiri" (hadis riwayat Bukhari).

Sanad merupakan rantai penutur/rawi (periwayat) hadis. Rawi adalah masing-masing orang yang menyampaikan hadis tersebut, seperti dalam contoh di atas yakni Bukhari, Musaddad, Yahya, Syu'bah, Qatadah dan Anas. Awal sanad ialah orang yang mencatat hadis itu dalam bukunya (kitab hadis), kerap disebut mudawwin atau mukharrij. Dengan kata lain, sanad merupakan rangkaian seluruh penutur itu mulai dari mudawwin hingga mencapai Rasulullah. Sanad memberikan gambaran keaslian suatu riwayat. Jika diambil dari contoh di atas, maka sanad hadis bersangkutan adalah Al-Bukhari --> Musaddad --> Yahya --> Syu’bah --> Qatadah --> Anas --> Nabi Muhammad SAW.

Suatu hadis dapat memiliki beberapa sanad dengan jumlah penutur/rawi yang bervariasi dalam lapisan sanadnya (thabaqah). Signifikansi jumlah sanad dan penutur dalam tiap thabaqah sanad akan menentukan derajat hadis tersebut.

Ada beberapa hal yang perlu dicermati dalam memahami hadis terkait dengan sanadnya, yakni keutuhan sanadnya, jumlahnya dan perawi akhirnya. Sebenarnya, penggunaan sanad sudah dikenal sebelum datangnya Islam. Hal ini diterapkan di dalam mengutip berbagai buku dan ilmu pengetahuan lainnya. Namun, mayoritas penerapan sanad digunakan dalam mengutip hadis-hadis nabawi.

Sementara, pengertian Rawi adalah orang-orang yang menyampaikan suatu hadis. Sifat-sifat rawi yang ideal adalah bukan pendusta atau tidak dituduh sebagai pendusta, tidak banyak salahnya, teliti, tidak fasik, tidak dikenal sebagai orang yang ragu-ragu (peragu), bukan ahli bid'ah, kuat ingatannya atau hafalannya, tidak sering bertentangan dengan rawi-rawi yang kuat, minimal dikenal dua ahli hadis pada jamannya.

Sifat-sifat perawi ini telah dicatat dari zaman ke zaman oleh ahli-ahli hadis yang semasa, dan disalin dan dipelajari oleh ahli-ahli hadis pada masa-masa berikutnya hingga sekarang. Rawi yang tidak ada catatannya dinamakan maj'hul, dan hadis yang diriwayatkannya tidak boleh diterima. Dalam buku terjemahan bahasa indonesia sering dijumpai singkatan HR yang merupakan kepanjangan dari Hadis Riwayat. Bila ditemukan tulisan HR. Bukhari, artinya hadis tersebut diriwayatkan oleh Imam Bukhari.

Mengenai Matan, bisa diartikan merupakan redaksi dari hadis. Dari contoh di atas, maka matan hadis itu adalah; "Tidak sempurna iman seseorang di antara kalian sehingga ia cinta untuk saudaranya apa yang ia cinta untuk dirinya sendiri". Terkait dengan matan, yang perlu dicermati dalam mamahami hadis adalah ujung sanad sebagai sumber redaksi, apakah berujung pada Nabi Muhammad atau bukan. Kemudian, matan hadis itu sendiri dalam hubungannya dengan hadis lain yang lebih kuat sanadnya (apakah ada yang melemahkan atau menguatkan, red) dan selanjutnya dengan ayat dalam Al Quran (apakah ada yang bertolak belakang, red).

Sejumlah informasi yang dihimpun menyebutkan, hadis dapat diklasifikasikan berdasarkan beberapa kriteria, yakni bermulanya ujung sanad, keutuhan rantai sanad, jumlah penutur (rawi) serta tingkat keaslian hadis (dapat diterima atau tidaknya hadis bersangkutan, red).

Berdasarkan ujung sanad, hadis dibagi menjadi tiga golongan yakni ’Marfu (terangkat), mauquf (terhenti) dan maqthu’. Hadis Marfu’ adalah hadis yang sanadnya berujung langsung pada Nabi Muhammad SAW, seperti contoh di atas. Berbeda dengan Hadis Mauquf yang sanadnya terhenti pada para sahabat nabi tanpa ada tanda-tanda baik secara perkataan maupun perbuatan yang menunjukkan derajat marfu'. Dicontohkan Al Bukhari dalam kitab Al-Fara'id (hukum waris, red) yang menyampaikan bahwa Abu Bakar, Ibnu Abbas dan Ibnu Al-Zubair mengatakan; "Kakek adalah (diperlakukan seperti) ayah". Pernyataan dalam contoh itu tidak jelas, apakah berasal dari Nabi atau sekadar pendapat para sahabat. Namun jika ekspresi yang digunakan sahabat adalah seperti "Kami diperintahkan..", "Kami dilarang untuk...", "Kami terbiasa... jika sedang bersama Rasulullah", maka derajat hadis tersebut tidak lagi mauquf melainkan setara dengan marfu'.

Begitu juga Hadis Maqthu’, sanadnya berujung pada para tabi'in (penerus) atau sebawahnya. Contoh hadis ini adalah: Imam Muslim meriwayatkan dalam pembukaan sahihnya bahwa Ibnu Sirin mengatakan: "Pengetahuan ini (hadis) adalah agama, maka berhati-hatilah kamu darimana kamu mengambil agamamu".

Keaslian hadis yang terbagi atas golongan ini sangat bergantung pada beberapa faktor lain seperti keadaan rantai sanad maupun penuturnya. Namun klasifikasi ini tetap sangat penting mengingat klasifikasi ini membedakan ucapan dan tindakan Rasulullah SAW dari ucapan para sahabat maupun tabi'in.

Berdasarkan keutuhan rantai/lapisan sanad, hadis terbagi menjadi beberapa golongan yakni Musnad, Mursal, Munqathi’, Mu’allaq, Mu’dlal dan Mudallas. Keutuhan rantai sanad maksudnya ialah setiap penutur pada tiap tingkatan dimungkinkan secara waktu dan kondisi untuk mendengar dari penutur di atasnya. Sebagai ilustrasi, alur sanadnya yakni Pencatat hadis > Penutur 5> Penutur 4> Penutur 3 (tabi'ut tabi'in) > Penutur 2 (tabi'in) > Penutur 1 (para shahabi) > Rasulullah SAW.

Dikatakan Hadis Musnad, bila urutan sanad yang dimiliki hadis tersebut tidak terpotong pada bagian tertentu. Urut-urutan penutur memungkinkan terjadinya penyampaian hadis berdasarkan waktu dan kondisi, yakni rawi-rawi itu memang diyakini telah saling bertemu dan menyampaikan hadis. Hadis ini juga dinamakan muttashilus sanad atau maushul. Disebut Hadis Mursal, bila penutur 1 tidak dijumpai atau dengan kata lain seorang tabi'in menisbatkan langsung kepada Rasulullah SAW. Sebagai contoh, seorang tabi'in (penutur 2) mengatakan; "Rasulullah berkata..." tanpa ia menjelaskan adanya sahabat yang menuturkan kepadanya).

Hadis Munqathi’, bila sanad putus pada salah satu penutur, atau pada dua penutur yang tidak berturutan, selain shahabi, Hadis Mu’dlal, bila sanad terputus pada dua generasi penutur berturut-turut, serta Hadis Mu’allaq, bila sanad terputus pada penutur 5 hingga penutur 1, alias tidak ada sanadnya. Dicontohkan, "Seorang pencatat hadis mengatakan, telah sampai kepadaku bahwa Rasulullah mengatakan...." tanpa ia menjelaskan sanad antara dirinya hingga Rasulullah.

Hadis Mudallas, bila salah satu rawi mengatakan "..si A berkata .." atau "Hadis ini dari si A.." tanpa ada kejelasan "..kepada saya.."; yakni tidak tegas menunjukkan bahwa hadis itu disampaikan kepadanya secara langsung. Bisa jadi antara rawi tersebut dengan si A ada rawi lain yang tidak terkenal, yang tidak disebutkan dalam sanad. Hadis ini disebut juga hadis yang disembunyikan cacatnya karena diriwayatkan melalui sanad yang memberikan kesan seolah-olah tidak ada cacatnya, padahal sebenarnya ada, atau hadis yang ditutup-tutupi kelemahan sanadnya.

Berdasarkan jumlah penutur dalam tiap tingkatan dari sanad, atau ketersediaan beberapa jalur berbeda yang menjadi sanad hadis tersebut, hadis dibagi atas hadis mutawatir dan hadis ahad. Hadis Mutawatir diriwayatkan sekelompok orang dari beberapa sanad dan tidak terdapat kemungkinan bahwa mereka semua sepakat untuk berdusta bersama akan hal itu. Jadi hadis mutawatir memiliki beberapa sanad dan jumlah penutur pada tiap lapisan generasi (thaqabah) berimbang.

Para ulama berbeda pendapat mengenai jumlah sanad minimum hadis mutawatir (sebagian menetapkan 20 dan 40 orang pada tiap lapisan sanad). Hadis mutawatir sendiri dapat dibedakan antara dua jenis yakni mutawatir lafzhy (lafaz redaksional sama pada tiap riwayat) dan ma’nawy (pada redaksional terdapat perbedaan namun makna sama pada tiap riwayat)

Sementara, Hadis Ahad diriwayatkan sekelompok orang namun tidak mencapai tingkatan mutawatir. Hadis ahad kemudian dibedakan atas tiga jenis, yakni Gharib, bila hanya terdapat satu jalur sanad (pada salah satu lapisan terdapat hanya satu penutur, meski pada lapisan lain mungkin terdapat banyak penutur), Aziz, bila terdapat dua jalur sanad (dua penutur pada salah satu lapisan, pada lapisan lain lebih banyak), serta Masyhur, bila terdapat lebih dari dua jalur sanad (tiga atau lebih penutur pada salah satu lapisan, dan pada lapisan lain lebih banyak) namun tidak mencapai derajat mutawatir. Dinamai juga hadis mustafidl.

Dari tingkat keaslian hadis, ada empat yakni shahih, hasan, dla'if dan maudlu'. Hadis Sahih, yakni tingkatan tertinggi penerimaan pada suatu hadis. Hadis shahih memenuhi persyaratan sebagai berikut, yakni Sanadnya bersambung (lihat contoh Hadis Musnad di atas), diriwayatkan para penutur/rawi yang adil, memiliki sifat istiqomah, berakhlak baik, tidak fasik, terjaga marwah (kehormatan)-nya, dan kuat ingatannya. Pada saat menerima hadis, masing-masing rawi telah cukup umur (baligh) dan beragama Islam. Matannya juga tidak mengandung kejanggalan/bertentangan (syadz) serta tidak ada sebab tersembunyi atau tidak nyata yang mencacatkan hadis (’illat).

Tingkat berikutnya adalah Hadis Hasan. Meski sanadnya bersambung, tetapi ada sedikit kelemahan pada rawi(-rawi)nya, misalnya diriwayatkan oleh rawi yang adil namun tidak sempurna ingatannya. Namun matannya tidak syadz atau cacat. Disusul Hadis Dhaif (lemah), yakni hadis yang sanadnya tidak bersambung (dapat berupa hadis mauquf, maqthu’, mursal, mu’allaq, mudallas, munqathi’ atau mu’dlal), atau diriwayatkan oleh orang yang tidak adil atau tidak kuat ingatannya, atau mengandung kejanggalan atau cacat. Terakhir, Hadis Maudlu’, bila hadis dicurigai palsu atau buatan karena dalam rantai sanadnya dijumpai penutur yang dikenal sebagai pendusta.

Ada juga Hadis Qudsi yang berisi perkataan Rasulullah SAW mengenai firman Allah SWT yang diwahyukan secara langsung. Makna hadis ini berasal dari Allah, akan tetapi berbeda dengan Alquran, kata-katanya berasal dari ucapan Rasulullah. Hadis qudsi ini, sebagian, kemudian disampaikan kepada sahabat-sahabat Rasul yang tertentu. Kondisi itu membuat tingkat kesahihan hadis qudsi ini serupa dengan hadis yang lain, dan diukur dengan cara serupa di atas. Fey/Berbagai sumber
Share:
Komentar

Berita Terkini