Koh Steven, Masuk Islam karena Penasaran

Editor: BinaMualaf.com author photo
Steven Indra Birowo dan anaknya. Foto Int
BM- Steven Indra Birowo, namanya. Rasa penasaran terhadap Islam justru mendorongnya menjadi seorang mualaf sejak tahun 2000 silam.
Dihimpun dari berbagai sumber, Koh Steven, demikian pria berusia 38 tahun itu disapa, mengaku takjub dengan satu sistem komando dalam Islam yang bisa menggerakkan secara serentak umat muslim.

"Takbir dalam sholat yang diserukan imam, bisa menggerakkan secara serentak seluruh makmum. Satu komando yang lintas gender, lintas generasi dan lintas sosial, tanpa memandang status seseorang," paparnya dalam suatu kesempatan berbincang di Jakarta, beberapa tahun silam. 

Maklum, Ketua Mualaf Center Indonesia (MCI) ini tidak menemukan hal serupa dalam keyakinan sebelumnya. Ia mengklaim, tidak ada satu keyakinan pun, selain Islam, yang mampu memiliki satu sistem komando. Setelah dipelajari, Koh Steven menemukan, aturan dalam Islam sangat jelas, mengatur kehidupan manusia dari mulai A-Z, bahkan setelah mati.

"Ajaran Islam lengkap dan jelas, bahkan untuk makan pakai tangan apa dan melangkah ke kamar mandi pakai kaki apa juga diatur," ujarnya.

Kondisi itu sontak melunturkan seluruh keimanannya yang telah mengakar dalam keyakinan sebelumnya.

"Saya tidak menemukan kejelekan keyakinan sebelumnya. Hanya saja, Islam jauh lebih baik lagi karena hukumnya jelas, keteraturan dan ketertiban di Islam jauh lebih baik dibanding keyakinan saya sebelumnya," tuturnya.

Kendati demikian, pencarian spiritualnya tidak berlangsung mulus. Bahkan, ia sempat 'terpeleset' saat belajar Islam. Sekira tahun 2000-2003, Koh Steven bertemu dengan seorang rekan mahasiswa yang kerap menggunakan atribut muslim, salah satunya jubah, dalam setiap kesempatan. Terpikat dengan penampilan itu, Koh Steven tak ragu untuk berguru. Tujuannya hanya satu, ingin mendalami agama Islam secara total.

Naas, ia justru dilanda kebingungan karena 'guru' itu mengajarkan hal-hal yang tidak sesuai dengan norma-norma Islam. "Tahun 2000 sampai 2003, itu masa jahiliyah. Saya belajar Islam sama orang yang salah," sebutnya.    

Betapa tidak, 'sang guru' justru mengajaknya ke diskotek dan sejumlah lokasi maksiat. Tentunya, 'sang guru' mengganti kostum jubahnya dengan busana biasa sebelum memasuki tempat-tempat maksiat.

"Katanya, rata-rata pengunjung di tempat maksiat itu memiliki KTP beragama Islam," tukas Koh Steven mengenang perjalanan spiritualnya menggapai Islam.

Beruntung, saat bersama teman-teman mualaf menunaikan ibadah Umroh ke Tanah Suci Mekkah dan Madinah, Koh Steven menemukan guru yang tepat. Saat berada di Madinah, ia bertemu dengan Dosen Teologi bernama Syekh Abdurrahman al-Qadhi. Setelah berkonsultasi secara rutin, ia menyadari selama ini telah menerima pelajaran Islam yang salah. Usai menunaikan Umroh, hatinya mantap untuk menjauhi 'guru sesat' yang di Indonesia itu.

"Alhamdulillah, pelan-pelan saya mulai mempelajari Islam sekaligus melewati masa sulit, termasuk hambatan dari keluarga yang tidak menerima saya menjadi Mualaf. Sejak tahun 2012, keluarga sudah bisa menerima pilihan saya," tandasnya. (Fey/Berbagai sumber)
Share:
Komentar

Berita Terkini